Showing posts with label Kebangsaan. Show all posts
Showing posts with label Kebangsaan. Show all posts

Thursday, August 30, 2018

GP ANSOR AJAK PEMUDA KOTAMOBAGU UNTUK "BERTENGKAR"

0 comments

Sebuah kesempatan Khusus untuk Pemuda Kotamobagu sebab jarang GP Ansor mengajak Orang untuk bertengkar apalagi mengajak pemudanya. Tapi perlu digaris bawahi, Bertengkar disini maksudnya adalah Bertengkar Ide dan Gagasan, bukan Bertengkar secara fisik (Hehe). GP Ansor Kotamobagu adalah sebuah Organisasi Kepemudaan yang berafiliasi dibawah naungan Nahdlatul Ulama (NU)  yang mempunyai tugas untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengembangkan ajaran Ahlusunnah wal Jama'ah An-nahdliyah yang Moderat, Seimbang dan Tegak lurus. 

Untuk itu dalam menjalankan tugas ini, GP Ansor Kotamobagu mengajak kepada seluruh Pemuda Kotamobagu yang mempunyai visi dan misi yang sejalan untuk "Bertengkar" secara ide dan Gagasan dengan bergabung bersama kami GP Ansor Kotamobagu. adapun syaratnya adalah :
1. Bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa
2. Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia
3. Berusia min. 20 Tahun, Maksimal yang penting masih punya semangat untuk berjuang bersama.
4. Menyetujui Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga GP. Ansor
5. Sanggup mentaati dan melaksanakan semua keputusan dan Peraturan Organisasi.

Jika anda Pemuda yang mempunyai keberanian untuk bergabung dan berjuang bersama maka GP. Ansor Kotamobagu dalam waktu dekat ini akan membuka Pendidikan dan Pelatihan Dasar yang akan dilaksanakan pada Tanggal 7-9 September 2018, Bertempat di Madrasah Al-Hikmah Mogutat Desa Poyowa Besar, Kecamatan Kotamobagu Selatan. Jangan sampai tidak gabung karena ini adalah peluang emas bagi kita semua. Kita bersahabat, Menjadi keluarga dan menimbah Ilmu bersama.

Mari kita bertengkar Ide dan Gagasan, 
Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh.
Read more...

Wednesday, March 7, 2018

INILAH 9 ALASAN KENAPA HARUS GABUNG GP ANSOR

0 comments


 9 ALASAN KENAPA HARUS GABUNG GP ANSOR

Sebenarnya Ada banyak alasan kenapa banyak  orang yang bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor). Namun kali ini admin hanya akan mengemukakan 9 alasan kenapa anak muda harus bergabung GP Ansor. Kenapa hanya 9 alasan? Karena ini melambangkan 9 bintang yang ada di Logo GP Ansor. Untuk lebih jelasnya, ikuti terus tulisan dibawah ini.

Pertama, Pemahaman  Ansor yang Sakti
Ahlusunnah wal Jama’ah an-nahdliyah merupakan paham yang menjadi dasar pemikiran dan gerakan dari GP Ansor. Paham Ahlusunnah wal Jama’ah telah terbukti berhasil mempersatukan Bangsa ini. Oleh karenanya, Paham Ahlusunnah wal jama’ah An-nahdliyah ini harus kita syukuri karena pemahamn inilah yang mampu memadukan dan mengombinasikan antara konsep nasionalisme dan agama. Hanya pola paham keagamaan Ahlusunnah wal jama’ah an-nahdliyah yang mampu mengantarkan Bangsa Indonesia menjadi agamis di satu sisi dan Nasionalis di sisi yang lain.

Kedua, Misi GP Ansor menjaga Keutuhan NKRI
Banyak kader Ansor yang beralasan bahwa salah satu alas annya bergabung dengan Ansor adalah karena misi Ansor yang jelas. Misi Ansor salah satunya adalah menjaga keutuhan Bangsa dan NKRI. Bahkan tidak main-main demi misi ini Pemuda Ansor rela syahid untuk Indonesia. Sejarah telah mencatat bagaimana Ansor berjuang melawan pasukan Inggris, melawan PKI, melawan DI/TII bahkan melawan HTI pada era modern ini. Keterpanggilan hati yang tulus dan ikhlas lah yang membimbing pemuda bergabung dengan GP Ansor. ANsor mampu membawa kemaslahatan untuk Bangsa ini.

Ketiga, Berkenalan dengan orang-orang baik
Sahabat merupakan orang-orang yang selalu ada disaat kita senang maupun susah, dan di GP Ansor kita bisa memiliki sahabat seperti ini. Sahabat di GP Ansor bisa menjadi kerabat kita, bisa juga menjadi guru kita. Didalam GP Ansor Sahabat yang baik adalah mereka yang menuntun kita ke arah yang baik serta orang yang sering berbagi ilmu dengan kita.

Keempat, Kaya Ilmu dan Pengalaman
Alasan ini tidak bisa disangsikan lagi. Bahwa ketika bertemu dengan sahabat dari berbagai latar belakang profesi dan bidang, akan terjadi sebuah proses yang disebut dengan transformasi pengetahuan. Seorang kader yang berlatar belakang guru misalnya bisa belajar menjadi pewarta dari seorang yang berlatar belakang profesi pers.

Kelima, Mengasah Kepekaan Sosial
kalau alasan yang satu ini, mesti dimiliki oleh semua kader. Mereka dididik untuk bersama dengan orang yang tidak sama. Dididik terbiasa dengan perbedaan pendapat. Dididik dengan konflik. Dididik dengan keanekaragaman pemikiran, sifat, tingkahlaku dan potensi. 

Keenam, Melatih kita bersikap Kritis
Di GP Ansor, selain kita dituntut peka, kita dilatih kritis untuk merespon kondisi sosial dan lingkungan sekitar. Nalar kritis ini takkan terwujud tanpa tahu jati diri kita sebenarnya. Dengan modal Prinsip Perjuangan yang ada di GP Ansor, dan juga beberapa materi yang menjadi pisau analisa  akan menjadikan kita cepat tanggap dalam merespon sesuatu. Nalar ini terbangun seiring dengan peran GP Ansor itu sendiri yang paling tidak ada karena dua hal: meningkatkan kualitas kader di satu sisi dan membuat merespon kondisi sosial disatu sisi menuju arah perubahan yang lebih baik lagi. 

Ketujuh, Melatih bersikap Toleran
Sikap toleran tidak pernah lepas dari Gerakan Pemuda Ansor. Toleran dalam hal ini adalah sikap untuk menghormati sesame manusia tanpa melihat latar belakang Agama, Suku dan Rask arena dimata GP Ansor semua kita sama, yakni sama-sama ciptaan Tuhan yang maha kuasa. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah GP Ansor tidak akan toleran kepada mereka yang memperburuk citra Islam dan berkeinginan untuk merusak keutuhan dan persatuan NKRI.

Kedelapan, Untuk menyalurkan bakat dan Potensi diri
Ada juga kader yang beralasan bergabung di GP Ansor bisa menyalurkan bakat dan potensi kita. GP Ansor selain fokus pada gerakan agama dan sosial, juga fokus pada gerakan kepemudaannya. Di GP Ansor kader yang mempunyai bakat akan difasilitasi agar bakat dan potensi dirinya bisa berkembang. Misalnya, ada yang berbakat menjadi politisi, akademisi, penyanyi bahkan yang berbakat pada bidang Olahraga pasti akan difasilitasi oleh GP Ansor agar lebih maju dan berkembang bakatnya.

Kesembilan, Melatih kita menjadi pemimpin
Alasan terakhir kenapa harus bergabung dengan Ansor adalah GP Ansor selalu memberikan peluang bagi kita untuk melatih diri menjadi seorang pemimpin. Dengan semua sumberdaya yang ada, GP Ansor selalu menginginkan kadernya agar bisa berguna bagi diri sendiri, orang lain dan berguna bagi GP Ansor. Sehingga jika kader diberikan wewenang dan amanah, maka sekali-kali jangan melupakan GP Ansor.

Itulah 9 alasan kenapa kita para anak muda harus bergabung dengan GP Ansor. Ke – 9 alasan ini akan menjadi kunci kita dalam menghadapi masa depan. Organsasi mampu merubah cara pikir, cara pandang dan cara hidup kita keika kita serius, total, dan loyal serta serius dalam berporses untuk pengembangan diri. Hari gini belum gabung GP Ansor? Apa kata dunia. Ayo Gabung! (Menyongsong Diklat Terpadu Dasar GP Ansor Kotamobagu). (DP)

Read more...

Friday, March 2, 2018

MENGUAK KEKEJAMAN GP ANSOR

0 comments
 MENGUAK KEKEJAMAN GP ANSOR

Tulisan kali ini penulis akan mengangkat judul mengenai kekejaman GP Ansor. Kejamkah GP Ansor? bagi mereka yang pernah berurusan dengan GP Ansor dan kalah dalam urusan itu serta bagi mereka yang mencoba mengganggu stabilitas dan kesatuan Negara ini mungkin akan mengatakan "GP Ansor memang kejam, tidak memberikan kesempatan bagi kami untuk ber-improvisasi menjalankan rencana kami untuk merusak keutuhan bangsa ini". Sejarah telah mencatat bagaimana kejamnya Ansor terhadap mereka yang ingin merusak keutuhan bangsa ini. Tanpa ampun GP Ansor membumi hanguskan dan mencabut orang-orang ini dari akarnya.

Sejarah mencatat 10 Oktober 1965 Ansor dan Banser terlibat perang dengan PKI, Tragedi berdarah Ansor dan Banser dalam menumpas PKI. Tepatnya di Malang, Ansor dan Banser menurunkan semua papan nama PKI beserta ormas-ormasnya. Hari itu juga, tokoh-tokoh PKI di daerah Turen mulai diserang oleh Ansor dan Banser. Diantara tokoh PKI yang terbunuh saat serangan itu adalah Suwoto, Bowo, dan Kasiadi. Kawan akrab Bowo yang bernama Palis karena takut dibunuh oleh Banser malah bunuh diri duluan di Pekunuran Desa Pagedangan.

11 Oktober 1965 Ansor dan Banser beserta Santri dari berbagai Pesantren di Tulungagung menyerang PKI di kawasan Pabrik Gula Mojopanggung. Kader Ansor dan banser yang saat itu baru berumur 13-16 tahun berhasil para jagoan PKI yang berjumlah 3.000 orang. Pada tanggal 12 Oktober 1965 sekitar 3.000 kader Ansor dan Banser mengadakan Apel siaga di alun-alun Kediri. setelah apel usai mereka bergerak menurunkan papan nama PKI beserta ormas-ormasnya di sepanjang jalan yang mereka lewati. Di Markasnya di Desa Burengan, PKI telah siaga dengan 5.000 anggotanya. Terjadi bentrokan berdarah dalam bentuk tawuran massal. Ansor dan Banser yang dipimpin oleh Bintoro, Ubaid dan Nur Rohim itu berhasil membunuh 100 orang PKI sedangkan di pihak Ansor dan Banser tidak ada korban jiwa sama sekali. 

Tidak hanya itu, pada tanggal 13 Oktober 1965, sekitar 10.000 orang PKI di Kecamatan Kepung, Kediri melakukan unjuk kekuatan apda pemakaman Sikat tokoh PKI yang tewas dalam peristiwa di Burengan. Mereka membalas dendam kepada dua orang santri dari pondok Kencong yang akan pulang ke desanya. kedua santri itu di cincang, dan dikubur hidup-hidup. Kematian dua orang santri yang masih remaja itu menyulut amarah Ansor dan Banser. tapi mereka belum berani masuk dan menyerang PKI di Desa Dermo, karena kedudukan PKI di daerah itu yang sangat kuat. Akhirnya Banser setempat meminta bantuan Banser dari Pondok Tebuireng, Jombang. Mereka masuk dengan menggunakan 5 Truk ke Desa itu. Truk mereka diberi tulisan BTI (Banser Tebuireng). PKI menyangka BTI yang ditulis itu adalah Barisan Tani Indonesia salah satu ormasnya PKI. walhasil bagaikan siasat "Sunyi senyap Menyerang", pertahanan PKI di Desa Dermo yang terkuatpun berhasil dihancurkan dari dalam. Terkahir dalam bulan November - Desember, diadakan Operasi pagar betis dimana Ansor dan Banser menurunkan 20.000 kadernya untuk menagkap dan manumpas PKI, saat itu personil Angkatan Darat hanya 21 Personil. Kejam sekali kau Ansor!  

Tahun 2017 GP Ansor dan Banser berhasil menghalangi dan menumpas salah satu pengosong Khilafah di Indonesia, ya benar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Organisasi ini berhasil ditumpas oleh GP Ansor dan Banser karena berniat dan sangat "ngotot' ingin mengusung Khilafah di Indonesia. Tapi penaklukan kali ini tidak lagi lewat tragedi berdarah, tapi dengan cara yang lebih elegan "Diplomasi". Sebagaimana penyampaian Gus Yaqut (Panglima tertinggi GP Ansor dan Banser) : Ansor tidak akan pernah berhenti menjaga Indonesia dari semua gerakan yang mengancam persatuan dan keberagaman Indonesia. Memecah belah umat beragama, merongrong NKRI, dan gerakan yang ingin Menegakkan Khilafah, akan berhadapan dengan GP Ansor.

Kita tidak perlu berkecil hati ketika dicibir, dihujat dan difitnah. Niat kita tulus, lurus dan baik. Kita hadapi mereka dengan santun, dengan cara tetap pada Niat awal menjaga Bangsa, Negara dan Agama. Itulah cara kita membalas fitnah mereka. (DP)
Read more...

Wednesday, February 28, 2018

WASPADAILAH GP ANSOR!

0 comments
 WASPADAILAH GP ANSOR

Waspadalah dengan mereka. Akhir-akhir ini GP Ansor dan Banser harus di waspadai. mereka tidak toleran lagi, membubarkan pengajian dan menjaga Gereja adalah arahan untuk mereka, selain dengan umat muslim mereka juga bersaudara dengan non muslim, bahkan baru-baru mereka viral karena menyanyikan Syubbhanul Wathon saat Sa'i di Makkah.

Seperti itulah bahasa-bahasa propaganda dan fitnah yang di alamatkan kepada GP Ansor dan Banser dengan tujuan untuk menjatuhkan kehormatan dan nama baik GP Ansor, Banser dan Nahdlatul Ulama di mata masyarakat. Namun kiat tersebut selalu saja gagal, semakin di fitnah GP Ansor dan Banser semakin menunjukkan keseriusannya mengawal NKRI sehingga bukan jatuh malah sebaliknya GP Ansor dan Banser semakin "manja" di mata Masyarakat kita. Ingat, Organisasi ini di doakan oleh Kyai dan Ulama.

GP Ansor lahir jauh sebelum negara ini merdeka bahkan telah ikut mewarnai sejarah perjalanan Bangsa ini. GP Ansor pernah berhadapan dengan PKI, pernah juga berhadapan dengan DI/TII dan sampai sekarang GP Ansor masih tetap berdiri kokoh mengawal dan membentengi NKRI dari rongrongan gerakan transnasional yang membahayakan keselamatan bangsa. Sehingga tidak berlebihan jika GP Ansor menyatakan diri paling Nasional karena sejarah telah membuktikan ke-loyalitas-an GP Ansor dalam menjaga bangsa.

"Ansor" sendiri merupakan nama kaum yang memberikan keselamatan pada Kaum Muhajirin dulu pada saat nabi melakukan Hijrah ke Madinah, sehingga Ansor berarti Kaum Penyelamat. Sekarang nama ini disematkan kepada salah satu Organisasi Kepemudaan dibawah naungan Nahdlatul Ulama yang tugasnya pun sama, sebagai penyelamat Bangsa, Negara dan Agama. Tugas ini adalah amanah yang akan terus dijaga dan dipertanggung jawabkan oleh kami kader GP Ansor dan hal yang paling memalukan untuk kami adalah ketika kami tidak mampu menjaga amanah itu.

Syuhada rebah, Allahu Akbar!








Read more...

Tuesday, February 27, 2018

KETIKA MANTAN AKTIVIS HTI BICARA PANCASILA

0 comments
KETIKA MANTAN AKTIVIS HTI BICARA PANCASILA

Bandung, NU Online
Lewat tengah malam Selasa (27/2), saat bedah buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah yang digelar Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Jawa Barat sudah mau diakhiri oleh moderator, seorang mantan aktivis Hizbut Tahrir angkat bicara.

Ia mengawali pembicaraannya dengan menyebut bahwa Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari adalah murid dari kakeknya pendiri HT Taqiyuddin al-Nabhani, yakni Syekh Yusuf al-Nabhani.

Selepas itu, pria tersebut juga menyangkal pernyataan penulis buku tersebut, Sofi Mubarok, bahwa organisasi yang dibubarkan Pemerintah Indonesia pada Mei 2017 lalu ini menyatakan bahwa Pancasila adalah kafir.

"Saya kira terlalu berlebihan jika dikatakan bid’ah dan kafir," katanya.

Setelah itu, moderator ingin melanjutkan acara dengan pemberian buku oleh penulis kepada tiga peserta yang telah bertanya.

Tetapi, Muhammad Sofi Mubarok pun tidak diam begitu saja. Ia pun meminta waktu kepada moderator untuk berbicara menanggapi pernyataan mantan anggota HTI tersebut.

"Kalau khilafah jadi berdiri di Indonesia, Pancasila mau ditaruh di mana Pak?" tanya Sofi.

"Kita tidak membahas Pancasila di HTI," sangkalnya.

Mengutip pernyataannya Ainur Rofiq al-Amin dalam disertasinya, Sofi mengungkapkan bahwa dalam dokumen yang disembunyikan, HTI menyebut Pancasila itu kufur, falsafatu kuffrin laa tattafiqu ma’a al-Islam, falsafah kufur yang tidak sejalan dengan Islam. Hal tersebut jelas bertentangan dengan pandangan para kiai Nahdlatul Ulama.

“Pancasila itu tattafiqu ma’a al-syariah aw laa yukhalifuha aw hiya al-syariah bi‘ayniha, sepakat dengan syariah atau tidak bertentangan dengan syariah ataupun Pancasila itu syariah itu sendiri,” kata Sofi menyitir kaulnya KH Afifuddin Muhajir.

Tak mau ketinggalan, Kang Asep Salahuddin yang hadir sebagai pembanding juga menanggapi pernyataan mantan anggota HTI tersebut. Sebelum lebih jauh menanggapi, ia menanyakan nama anggota HTI tersebut.

“Siapa namanya, punten?” tanyanya.

“Dodi,” jawabnya.

“Pak Dodi, namanya seperti (orang) NU,” balas Ketua Lakpesdam NU Jawa Barat tersebut yang segera disambut tawa para peserta.

Ia menulis dalam Jurnal Tashwirul Afkar edisi Maret 2018 dengan judul Pancasila, NU, dan Gerakan Kebudayaan. Dalam tulisannya tersebut, Wakil Rektor IAILM Suryalaya tersebut mengungkapkan bahwa tulisannya menjawab diskusi pada malam hari tersebut.

Ia pun menyarankan agar mantan anggota HTI membacanya, tidak hanya orang NU. Sebab perdebatan tidak hanya melalui oral saja. Menurutnya, debat model tersebut tidak akan pernah selesai.

Sementara itu, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat KH Ahmad Dasuki mengapresiasi HTI dalam membangun keumatan yang lebih kuat. Meskipun begitu, NU punya cara pandang sendiri dalam menentukan gerakannya, yakni demi menjaga keutuhan bersama.

“NU tidak pernah memusuhi HTI ataupun lainnya. Tetapi yang kita perjuangkan adalah kemaslahatan bersama,” tegas Kiai Dasuki.

Tujuan HTI, menurutnya, tidak salah. Tetapi caranya bermasalah. “Cara yang harus kita bangun adalah cara yang sesuai dengan karakter dan situasi kondisi (Indonesia),” katanya pada suatu diskusi tahun lalu menanggapi pernyataan tentang penegakan syariah oleh HTI.

Kiai yang aktif mengamati HTI sejak tahun 1996 itu juga menanggapi pernyataan anggota HTI berkaitan dengan silsilah keilmuan Mbah Hasyim yang pernah berguru pada kakeknya Taqiyuddin al-Nabhani.

Ia pun membaca dan mengamalkan Afdal al-salawat dan Sa’adat al-Darain. “Nasab secara geneologi itu belum tentu nasab secara Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya.

Meskipun terjadi saling bantah pernyataan, para pembicara dan mantan anggota HTI itu pun bersalaman di akhir diskusi. Tidak ada saling hujat dan tidak ada caci maki.

Para peserta pun mengikuti acara dengan penuh khidmat hingga benar-benar selesai ditutup dengan potong tumpeng sebagai tanda tasyakkur Harlah ke-64 IPNU. Acara berakhir pada pukul 01.00 WIB setelah lebih dari empat jam para hadirin berdialektika.

Dialog kebangsaan tersebut dihadiri oleh rekanita IPPNU Jawa Barat, anggota PMII Bandung, anggota Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (Ijabi), dan perwakilan organisasi lainnya. (Syakir NF/Fathoni)
Read more...

TAUBATNYA SEORANG PEMUDA KARENA ANSOR

0 comments
TAUBATNYA SEORANG PEMUDA KARENA ANSOR
Salah satu Postingan pada Akun FB beberapa Tahun lalu

Sebuah kisah nyata dari Kotamobagu, bagaimana penulis pernah juga menjadi bodoh ketika berpikir. Beberapa tahun yang lalu penulis pernah sangat termotivasi untuk menjadi jihadis. Seperti ada sesuatu yang "Cool" atau keren dibenak penulis ketika membayangkan memegang senjata dan menempelkan bom ditubuh sendiri. Penulis merasa seperti sudah sangat berkorban untuk Agama. 

Hal ini terjadi ketika penulis menginjakkan kaki pada bangku Sekolah Menengah Atas dulu. umur muda dan cara pikir yang sempit kala itu. Penulis pernah sangat Ngefans sama Osama Bin Laden dan Abu Bakar Ba'asyir. Pemikiran seperti ini terus berlanjut sampai penulis menginjakkan kaki di bangku perkuliahan. Bahkan di laptop penulis banyak mengoleksi video bom bunuh diri oleh para Jihadis. Penulis masih ingat mereka meneriakkan Dua Kalimah Syahadat sebelum mem-bom pasar dan tempat ramai lainnya. Dihati penulis bergumam "Mati Kalian wahai Kafir". Penulis yakin Faktor didikan dan pergaulan yang melatar belakangi ini semua. Masa ini adalah masa ketika penulis mengalami proses kesalahan berpikir dalam hidup. 

Beruntung bagi penulis, pemikiran seperti ini tidak berlanjut. Saat kuliah Penulis memilih bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Penulis sangat serius untuk menimbah ilmu di Organisasi ini. Inilah awal mula penulis mengenal Ahlusunnah wal jama'ah dan Nahdlatul Ulama. Penulis mulai aktif Ngelmu perihal Nahdlatul Ulama dan Aswajah-nya. Ngelmu inilah yang menuntun penulis kepada Gerakan Pemuda Ansor. Sebuah Gerakan Pemuda yang didirikan oleh Nahdlatul Ulama dan mempunyai tugas membentengi Aqidah Ahlusunnah wal Jama'ah An-nahdliyah. Kiblat pemikiran penulis yang tadinya Sporadis dan Jihadis bergeser dan berubah menjadi Historis, Kontekstual, Tasamuh dan Moderat.  Didalam GP Ansor penulis belajar memahami sesuatu berdasarkan Asbab dan Sejarah. 

GP Ansor dan Nahdlatul Ulama, mengajarkan penulis banyak hal. Wadah ini merubah cara pandang penulis kepada mereka yang penulis anggap "Kafir" dulu dan Wadah ini juga yang mengajari penulis bagaimana bersikap kepada sesama kita umat Muslim. Kecerdasan Kyai dan Ulamanya yang disampaikan dengan teduh dan damai membuat Penulis dan Kader Ansor lainnya menjadi lebih dingin ketika memecahkan suatu masalah.  Akhirnya penulis merasa tersesat dijalan yang benar, GP Ansor adalah jalan lurus yang penulis pilih dalam bergerak dan berjuang. GP Ansor melapangkan cara pikir penulis dari cara pikir yang sempit. Tiada keraguan bergabung dengan GP Ansor, Tiada penyesalan bergabung dengan GP Ansor. Untuk itu Penulis mengajak kepada Pemuda lainnya yang belum bergabung agar mari bergabung bersama GP Ansor sebelum tersesat lebih jauh. 

Karena di GP Ansor kita bersahabat lebih dari Kerabat!

(Dani Paramata)




Read more...

Sunday, February 25, 2018

HUMOR UU MD3 DAN GIRANGNYA GURU MADRASAH

0 comments

Perdebatan sengit terkait dengan revisi Undang-undang MD3 di DPR RI membuat Jamil sangat terkejut.

Pasalnya, Ahmad Mudrik yang berprofesi seorang guru madrasah terlihat begitu antusias memperhatikan dinamika perdebatan UU MD3.

Padahal kesehariannya, Mudrik adalah seorang guru yang begitu cuek terhadap apapun yang dilakukan DPR. 

"Loh kenapa, sekarang kamu begitu antusias? Biasanya santai-santai saja kalau terkait dengan DPR?” tanya Jamil.

"Karena ini berkaitan dengan kita. UU itu sangat menentukan sekali nasib kita,” jawab Mudrik.

Perubahan sikap mudrik membuat Jamil makin penasaran. Hingga Jamil berusaha menahami kegembiraannya.

Begitu Jamil paham, ternyata Mudrik memahami UU MD3 itu singkatan dari UU Madrasah Diniyah Nomor 3. (Abdul Muiz dalam NU.or.id)
Read more...

Saturday, February 24, 2018

RAKUS KUASA

0 comments
Oleh: Munandar Harits Wicaksono
(Mahasisiwa S1 Universitas Al-Ahqaff, Hadramaut, Yaman)
Sebuah lakon. Ia lahir di dalam rahim kebudayaan. Tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat seiring pergeseran zaman. Fungsinya juga beragam, tergantung dari sudut mana kita memandang.
Saya selalu suka lakon Baratayuda –entah dipentaskan dengan drama teatrikal ataupun hanya pementasan wayang kulit belaka. Peperangan terakhir Pandawa dan Kurawa di negeri antah-berantah Kuruksherta, selalu menjadi sajian menarik yang layak benar untuk dikaji secara mendalam. Memang, tidak banyak yang menyadari makna dan pesan sejati kisahnya. Tapi percaya atau tidak, lakon tidak hanya berfungsi sebatas hiburan dalam penciptaannya. Ia tidak kosong, tidak sia-sia.
Konon, Baratayuda versi Jawa merupakan judul naskah kakawin yang ditulis oleh Mpu Sedah di tahun 1157 M. Mengadopsi wiracita yang terkenal dari India, Mahabarata dalam pewayangan Jawa sejatinya merupakan simbol perang saudara dalam perebutan kekuasaan yang terjadi antara kerajaan Jenggala dan Kediri yang sama-sama keturunan Erlangga.
Ada alasan, tentu saja. Tidak akan ada peperangan tanpa alasan. Dalam kisah Baratayuda, bibit permusuhan Kurawa terhadap Pandawa sudah ditanamkan semenjak mereka masih kanak-kanak. Rasa sakit hati Gendari, ibu dari Kurawa dan Sengkuni, paman mereka terhadap ayah para Pandawa menjadikan Kurawa benar-benar memilik hasrat untuk membunuh saudara tiri mereka.
Pandawa yang selalu digambarkan berdiri di sisi kebaikan, berusaha mengalah dan secara bijak bersabar menerima perlakuan Kurawa. Percobaan pembunuhan dengan membakar istana, perebutan kerajaan Amarta, lalu pengasingan dan pencabutan hak-hak mereka sebagai putra mahkota lewat permainan dadu licik Kurawa mereka terima dengan lapang dada. Namun dimulai dari sinilah tolak ukur bobroknya moral Kurawa.
Setahun usai Pandawa menjalani masa pengasingan di hutan Kamiyaka, mereka kembali lagi ke Amarta untuk meminta dikembalikannya lagi hak-hak mereka sebagai putra mahkota raja Pandu. Tapi keinginan tinggal keinginan. Jangankan mengembalikan hak mereka atas kerajaan Amarta, memberikan lima buah desa sebagaimana permintaan minimum dari Puntadewa –yang tidak seberapa dibandingkan kerajaan Amarta saja enggan dipenuhi oleh Kurawa. Apa mau dikata, Keserakahan tahta terlanjur menggelapkan hati dan akal nurani mereka.
Tahta atau kuasa, merupakan satu dari tiga orientasi kehidupan lahiriah seorang manusia. Bersama harta dan wanita, keingian mencapai ketiganya pasti ada. Hanya saja, semua kembali pada seberapa besar manusia menggunakan akal sehat untuk mengontrol keinginan tersebut.
Manalagi yang lebih menggiurkan bagi Kurawa dibanding kekuasaan. Dengannya, seorang pemimpin memiliki wewenang. Wewenanglah yang akan membantu tercapainya dua orientasi lahiriyah yang lain. Harta, begitu mudahnya akan direngkuh oleh seorang pemimpin yang menyalahgunakan wewenang kekuasaannya. Alokasi anggaran yang abstrak, penuh subuhat dan ketidakpastian adalah alat yang cocok bagi Kurawa untuk memperkaya diri mereka sendiri. Lalu, jika harta dan kuasa sudah mereka miliki, mudah saja untuk mendapatkan wanita sebagaimana yang mereka kehendaki.
Selain itu, kekuasaan akan menjadikan Kurawa begitu dihormati, ditakuti, dan diikuti oleh rakyat-rakyat jelata. Apapun keputusan yang diambil akan membawa ke arah mana orientasi kerajaan Amarta beserta rakyatnya –apakah ia akan bercita rasa barat, ataukah timur yang serba kemerah-merahan.
Itulah eksistensi nilai dari tahta. Satu kata, lima huruf yang dalam praktiknya begitu menggiurkan dan  membuat siapapun berambisius meraihnya. Minggu-minggu ini, apa yang terjadi di negara Indonesia seperti menggambarkan wujud Kurawa dalam ketamakan dan kerakusan tahta. Negara seperti diujung perpecahan. Satu ideologi politik dibenturkan dengan ideologi lain –entah politik atau tidak demi mengejar kuasa. Saling sikut, saling jegal antara kelompok.
Agama yang seharusnya mencakup berbagai segmentasi kehidupan dari bangun tidur-hingga tidur lagi, mengalami penyempitan makna menjadi seperti sebatas paham politik saja. Agama diperalat, dan dipergunakaan hanya demi kerakusan dan ketamakan akan kekuasaan.
Padahal Kurawa dan para re-inkarnasi jiwa rakusnya barangkali sudah tahu tentang pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab itu. Untuk apa mereka hidup. Ke mana mereka setelah hidup. Dan apa yang akan mereka bawa setelah mereka hidup. Sayang, mereka mengalami kebutaan dan ketulian dalam kehidupan mereka.
Seperti kisah Adam dan Eve. Seperti kisah Kurawa dalam Baratayuda. Pada akhirnya mereka yang tamak dan rakus akan mengalami penyesalan dalam hidupnya. Adam, ayah segala bangsa pada akhirnya menyesal dan diusir dari surga. Sementara Kurawa, tidak lagi ada satupun dari mereka yang tersisa. (Ansor News)
Read more...